- August 18, 2026
- Posted by: Pujoko
- Categories: Berita, Kabar Persyarikatan
PDMKOTAMADIUN.OR.ID – Berpulangnya almarhum Dr. KH. Agus Tricahyo, M.A. di RSI Aisyiyah Madiun menyisakan duka mendalam sekaligus warisan keteladanan yang amat berharga bagi seluruh civitas akademika.
Beliau bukan sekadar sosok ulama dan tokoh persyarikatan, melainkan pilar penting pendidikan tinggi yang menjabat sebagai Ketua Senat UIN Ponorogo sekaligus Anggota Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Madiun (UM JATIM).
Dosen dan Peneliti Kesejahteraan Sosial UM Madiun, M. Mochtar Mas’od, menegaskan bahwa di kawasan Matraman (Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya), almarhum dikenal luas sebagai sosok “pendekar berkemajuan”—seorang pimpinan yang kharismatik, santun dalam bertutur kata, namun sangat konsisten dalam mengawal marwah dan mutu organisasi.
“Kepergian Ayahanda Agus Tricahyo menghadirkan perenungan mendalam tentang pentingnya menjaga keberlanjutan estafet perjuangan dan penataan organisasi. Kemajuan dan keberlanjutan suatu institusi pendidikan tinggi tidak boleh hanya bergantung pada satu sosok utama saja. Kejayaan organisasi justru ditentukan oleh sejauh mana keteladanan pimpinan mampu diubah menjadi etos kerja bersama yang profesional, jujur, dan berbasis pada karya nyata sesuai peran kita masing-masing,” ujar M. Mochtar Mas’od.
Dalam keterangannya, M. Mochtar Mas’od menyoroti tiga pilar keteladanan almarhum selama menahkodai PDM Kabupaten Madiun periode 2022-2027 yang patut diteladani oleh seluruh insan perguruan tinggi dan pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM):
a.Komitmen pada Historiografi dan Dokumentasi:
Almarhum merintis penulisan buku sejarah perjuangan lokal agar jasa para tokoh pendahulu di tingkat akar rumput tidak hilang ditelan zaman.
b.Penguatan Basis Pendidikan Strategis:
Beliau secara aktif mengawal dan memperkuat pusat-pusat pendidikan kejuruan dan dasar agar menjadi lembaga unggulan yang berdaya saing.
c.Pemberdayaan Akar Rumput: Almarhum berkomitmen meluaskan jangkauan pelayanan hingga ke tingkat desa melalui kerja keras yang akuntabel dan berorientasi pada hasil riil.
Menutup opininya, M. Mochtar Mas’od mengajak seluruh pendidik, akademisi, dan pengelola lembaga untuk meneruskan estafet perjuangan almarhum dengan membuang budaya pasif karya (social loafing) dan menegakkan prinsip Good Governance.
“Jalan terbaik untuk merawat warisan perjuangan almarhum Dr. KH. Agus Tricahyo, M.A. adalah dengan membangun ekosistem kampus dan persyarikatan yang bersih, berkemajuan, berkinerja tinggi, serta berorientasi[16/8, 21.58] mulyadijr015: pada karya nyata demi membawa institusi semakin unggul, mandiri, dan mencerahkan semesta,” pungkasnya.
(Penulis: M. Mochtar Mas’od, Dosen S1 Kesejahteraan Sosial UM Madiun)