Khutbah Jumat, 10 Juli 2026 di Masjid Al Wasathiyah kampus 1 Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UM Jatim), sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) menghadirkan penceramahSatriyo Priyo Handoko, S.Si., M.Si., Kepala Biro Keuangan dan Umum di Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD).

Dalam kesempatan tersebut, Satriyo Priyo Handoko menghadirkan tema khutbah “Syariah Berkeluarga” dengan membahas surat ke 31 didalam Al Quran yaitu QS. Al Luqman yang menceritakan nasihat seorang ayah kepada anaknya.

Disampaikan Satriyo, sosok Luqman bukan nabi, bukan rasul. Sebagian besar mufassir seperti Ibnu Katsir dan Qurtubi mengatakan: Luqman adalah seorang hamba yang shalih, ahli hikmah, berkulit hitam dari Habasyah/Ethiopia.

Allah memberinya hikmah karena ketakwaan dan akhlaknya, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Luqman ayat 12:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِۗ

(wa laqad âtainâ luqmânal-ḫikmata anisykur lillâh)

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah.”

Dalam surat tersebut, Allah menyampaikan firman mengenai pesan-pesan moral Luqman kepada anaknya terkait pendidikan yang fundamental atau mendasar sebelum belajar tentang ilmu yang lain, untuk meraih keselamatan dan kesuksesan dunia dan akhirat.

Pesan yang pertama mengenai tauhid, keyakinan yang benar Yang permata adalah Tauhid, yaitu pendidikan tentang keyakinan yang benar yaitu tidak menyekutukan Allah sebab mempersekutukan Allah adaalh kezaliman yang benar-benar besar.

Seperti disebutkan dalam QS Al Luqman ayat 13:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

(wa idz qâla luqmânu libnihî wa huwa ya‘idhuhû yâ bunayya lâ tusyrik billâh, innasy-syirka ladhulmun ‘adhîm)

 “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Pesan tersebut menjadi pondasi menjalani kehidupan. Apapun kondisi kehidupan yang akan dihadapi, jangan sampai kita mempersekutukan Allah dengan yang lain.

Pesan kedua

Pesan kedua adalah adalah berbakti kepada orang tua, sebagaimana difirmankan Allah dalam QS Al Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

(wa washshainal-insâna biwâlidaîh, ḫamalat-hu ummuhû wahnan ‘alâ wahniw wa fishâluhû fî ‘âmaini anisykur lî wa liwâlidaîk, ilayyal-mashîr)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Kita diperintahkan oleh Allah untuk berbakti kepada kedua orang tua kita, khususnya ibu kita yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan dan menyusui kita hingga waktunya disapih.

Kita diperintahkan bersyukur kepada Allah dan kepada berterima kasih kepada kedua orang tua kita, dengan cara berbuat baik dan berbakti kepada mereka.

Pesan ketiga

Pelajaran yang ketiga adalah peringatan tentang perbuatan kita di dunia ini, akan mendapatkan balasan dari Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Luqman ayat 16:

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ 

(yâ bunayya innahâ in taku mitsqâla ḫabbatim min khardalin fa takun fî shakhratin au fis-samâwâti au fil-ardli ya’ti bihallâh, innallâha lathîfun khabîr)

 “(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.”

Maka perlu kita nasehatkan kepada keluarga kita, termasuk kita sendiri, untuk berhati-hati dalam berbuat di dunia ini.

Perbuatan baik akan mendatangkan balasan yang baik, perbuatan yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk, dan siksa dari Allah.

Pelajaran ke empat adalah melaksanakan ibadah sholat, menyuruh atau mengajak orang berbuat baik dan mencegah dari perbuatan buruk / munkar, dan bersabar atas semua kondisi yang diterima.

Sebagaimana firman Allah dalal Al Luqman ayat 17:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

(yâ bunayya aqimish-shalâta wa’mur bil-ma‘rûfi wan-ha ‘anil-mungkari washbir ‘alâ mâ ashâbak, inna dzâlika min ‘azmil-umûr

“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

5. Pelajaran ke lima adalah untuk tidak berlaku sombong di dunia ini, sebagaimana firman Allah di QS Al Luqman Ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

(wa lâ tusha‘‘ir khaddaka lin-nâsi wa lâ tamsyi fil-ardli maraḫâ, innallâha lâ yuḫibbu kulla mukhtâlin fakhûr)

 “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Pelajaran ke enam adalah membentuk kepribadian yang rendah hati, yang ditunjukkan dengan cara berjalan dan cara berbicara.

Sebagaimana firman Allah ayat 19:

  وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِࣖ 

(waqshid fî masy-yika waghdludl min shautik, inna angkaral-ashwâti lashautul-ḫamîr)

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”



Leave a Reply