- September 30, 2025
- Posted by: Pujoko
- Categories: Berita, Kabar Aum
PDMKOTAMADIUN.OR.ID – Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) yang akan berubah menjadi Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) melaksanakan Diskusi bertema “Pengembangan Kesarjanaan sebagai Dosen yang Mandiri dan Berwibawa, Kamis, 25 September 2025.
Diskusi sekaligus sharing yang dihelat di hall kampus I UMMAD ini menghadirkan Prof. Dr.Khairul Anwar Mastor, M.A, Academic Fellow Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan diikut seluruh tenaga pengajar UMMAD.
Prof Khairul Anwar Mastor, M.A telah menjadi visiting scholar selama 33 tahun dengan terlibat dalam penelitian pengajaran, perkuliahan atau berkolaborasi dengan dosen di banyak universitas di Eropa, AS, Asia termasuk Indonesia.
Sejumlah universitas di AS yang menjadi tempat visiting scholars Prof Khairul Anwar Mastor, M.A adalah University of Illinois Urbanna Campaign, Washington State University, University of Oregon.
Sedang di Eropa, Prof Khairul Anwar Mastor melakukan visiting scholars di Universite de Lausanne (Swiss), Universitat Zurich (Swiss) dan Humboldy Universitat Zu Berlin (Jerman).
Lalu di Asia menjadi visiting scholars di University of Sharjah (UEA), Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam Indonesia dan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (Indonesia).
Dalam kesempatan menyampaikan materi diskusinya, Prof Khairul Anwar Mastor menyampaikan beberapa hal penting terkait kesarjanaan dosen. Antara lain mengenai tugas utama dosen yang ia sebut adalah menyampaikan ilmu pengetahuan.
Namun pada saat yang sama dosen itu harus menambah ilmu pengetahuan yang dimiliki agar dapat dibagi kepada mahasiswa.
“Tugas utama dosen menyampaikan ilmu. Tapi pada masa yang sama dirinya sendiri ditambahi ilmu supaya dapat dikongsikan dengan mahasiswa,” terang profesor di Fakulti Kepimpinan dan Pengurusan USIM itu.
Menurut Prof Khairul Anwar Mastor, dosen tidak boleh berpuas hati walaupun sudah punya gelar S2 dan bahkan S3. Namun harus terus menerus belajar untuk mengembangkan kemampuan.
“Supaya bila kita membimbing kita juga perlu menguasai bidang sebaik-baiknya. Kita harus terus up date our knowledge (perbarui pengetahuan). Harus gembira dalam menuntut ilmu, tidak jenuh untuk mengembangkan kesarjanaan,” kata Prof Khairul.
Makna kesarjanaan itu adalah pemikir, thinker. Untuk menjadi sarjana yang tulen harus banyak membaca, membaca jurnal secara langsung, secara manual.
Dan hal tersebut saat ini menjadi masalah ditengah maraknya menggunaan AI seperti chat GPT untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Dengan menggunakan AI seperti Chat GPT untuk menyelesaikan tugas jadi gampang. Namun masalahnya, otak orang tidak diajak untuk berpikir.
“AI become assistant (jadi asisten), ChatGpt become our assistant(asisten). Yes its helps to getting information faster, processing information faster (Ya itu membantu mendapatkan informasi lebih cepat. Tapi proses berfikir, mensintesis knowledge tidak lagi dialami our brain (otak). We to much relliance on the Chatgpt (Kita sangat tergantung pada ChatGpt),” jelas Prof. Khairul.