PDMKOTAMADIUN.OR.ID – Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) UMMAD Gelar Leadership & Retreat Organisasi.

Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Satu Rasa, Satu Keluarga, Membangun Rasa Memiliki Mengikat Tali Keakraban.

Kegiatan Leadership dan Retreat Organisasi Himakom UMMAD ini dilaksanakan di INKA Training Centre di Kuwiran, Kare, Kabupaten Madiun, Sabtu-Ahad, 7-8 September 2025.

Sekretaris Himakom UMMAD, Muhammad Syaifudin menerangkan, sebanyak 20 anggota Himakom mengikuti acara yang bertujuan menciptakan ruang yang kondusif untuk saling mengenal, memahami, dan menguatkan satu sama lain tersebut.

Menurut Syaif, kegiatan ini berfungsi sebagai sarana healing yang positif. Lingkungan non-formal yang digunakan dalam retreat memberi peluang bagi peserta untuk keluar dari rutinitas, menyegarkan pikiran, dan memperkuat koneksi secara emosional.

Melalui aktivitas-aktivitas yang bersifat edukatif, rekreatif, dan inspiratif, diharapkan tercipta suasana kekeluargaan yang hangat dan berkelanjutan antaranggota Himakom.

“Dari kegiatan ini diharapkan seluruh anggota dapat merefleksikan peran dan kontribusinya, serta lebih siap dalam menghadapi dinamika organisasi ke depan,” terang Syaif.

Sementara itu, dosen UMMAD, Muhammad Hasan Al Banna, M.Sc menjadi pembicara dalam retreat Himakom yang baru perdana digelar ini.

Hasan Al Banna menyampaikan materi mengenai Leader Insight: Peran Organisasi Mahasiswa Mewujudkan Kepemimpinan Kolaboratif yang Berdampaik.

Sejumlah materi terkait kepemimpinan (leadership) disampaikan Hasan Al Banna di hadapan peserta retreat Himakom UMMAD termasuk mengenai kepemimpinan transformatif.

Kepemimpinan transformatif ini dibentuk melalui penciptaan visi, membangun komitmen terhadap visi. Mengomunikasikan visi dan membentuk contoh-contoh visi (modeling).

“Mereka juga memberi respon materi yang disampaikan. Misalnya tentang indikator kesuksesan berorganisasi,’ kata dosen Prodi Biokewirausahaan UMMAD tersebut.

Menurut Hasan, peserta bertanya soal indikator sukses dalam berorganisasi itu apa? Apakah kepuasan dari yang dipimpin, terlaksananya program atau keberlanjutan program.

“Ketiga indikator betul itu semua. Karena kita berproses organisasi dari tiga indikator itu. Kita harus maksimal dalam berorganisasi. Tidak ada kata gagal kalau salah diperbaiki,” ujar Hasan. (***)



Leave a Reply